Sabtu, 03 Maret 2012

Kisah supir taksi tadi sore

Sore hari setelah mengikuti seminar "7 keajaiban rejeki" kami bermaksud pulang ke rumah. Tanpa menunggu lama taksi pun sdh dtg di hadapan kami. Setelah memberitahu arah tujuan kami, kamipun diam sambil sibuk balas bbm yg tertunda krn terlalu khusyuk mengikuti seminar hehehe... 
Kemudian supir taksi pun berlaku ramah dengan mengajak kita mengobrol. Entah mulai darimana tiba-tiba obrolan kami semakin seru hingga dia menceritakan kisah hidupnya. Ini dia kisahnya....Jeng jenggg jenggg jengggggg.......(berasa nonton layar tancep :p)

Ternyata sebelum menjadi supir taksi selama kurang lebih 2 tahun bnyk cerita menarik dari hidup bapak tersebut. Singkat cerita, bapak itu pernah bekerja di Kedutaan selama kurang lebih 6 tahun lamanya sehingga wajar dia bisa berbahasa inggris dengan baik karena sering berhubungan dengan orang asing. Setelah habis masa kontrak dengan berbekal gaji dan uang pesangon, beliau memulai bisnis dan menjadi pengusaha di bidang otomotif. Alhamdulillah bisnisnya berjalan dan berkembang dgn mulus sampai dia memiliki beberapa mobil dan supir pribadi. Beliau telah menikah dan memiliki 2 orang anak yaitu wanita yg paling besar masih kelas 6 sd dan laki-laki yg berumur 4 tahun. Kehidupan beliau berjalan lancar dan perkawinan mereka yg hampir memasuki waktu 10 tahun seperti tidak ada hambatan sama sekali. Tiba-tiba Allah mengujinya. Beliau ditipu rekan bisnisnya yg baru dikenal hingga dia bangkrut. Tidak hanya itu, tiba-tiba istrinya meminta cerai bersamaan dengan kabar bahwa ibunda beliau masuk rumah sakit. Selama pernikahan mereka tidak pernah bertengkar namun bukan berarti tidak ada apa-apa. Ternyata istrinya memendam semua masalah sendirian ditambah suami mengalami kemunduran ekonomi dan tuntutan dari orang tua istrinya. Sebenarnya bapak itu masih mau mempertahankan pernikahannya, tetapi istrinya bersikeras bercerai. Selama proses perceraian itu, sang supir taksi tidak boleh masuk ke rumahnya oleh istrinya karena menurut istrinya rumah tersebut adalah pemberian dari orang tua istrinya. Akhirnya beliau sempat menginap di mesjid dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari pekerjaan mengelap mobil-mobil yg parkir di dkt mesjid. Alhamdulillah, uangnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan beliau teringat kosannya yg dulu  pernah dia tempati saat masih bujang pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Alhamdulillah lagi, Allah Maha baik kepada hamba Nya yg mau berusaha, dia ditawarkan untuk tinggal di kosan tersebut tanpa membayar sepeser pun hingga dia mendapat pekerjaan. Lalu dari situ pula dia melihat pengumuman di koran adanya lowongan supir taksi. Proses perekrutan berjalan lancar hingga dia diangkat menjadi supir tetap. Dia memilih menjadi supir taksi sampai sekarang karena menurutnya, untuk saat ini pekerjaan itu tidak menghalangi dia untuk beribadah dan juga mengantar anaknya.

Kami jadi teringat isi dari seminar hari ini oleh pak Noveldy dan pak Ippho Santosa. Yang pertama dari pak Noveldy tentang kisah bapak tersebut bahwa pernikahan yang adem ayem tanpa konflik tidak selalu menjadi indikator pernikahan yg harmonis. Bisa jadi karena salah satu pasangan tidak bisa mengungkapkan komunikasi yang baik dan cenderung memendam atau mengalah, sehingga bisa jadi suatu saat akan menjadi bom waktu bagi pernikahan tersebut.  
Sedangkan dari pak Ippho tentang kisah bapak tersebut, bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. Jika manusia tersebut mau berusaha dan berdoa untuk memperbaiki hidupnya pasti Allah akan memberikan jalan dari cara yang tidak diduga dan juga Allah juga bisa saja memberikan ujian dari sesuatu yg tak terduga.

Oiya, kami teringat akan cerita bapak tersebut saat dia masih bujang dulu. Salah satu temannya aakn pulang kampung sehingga menanyakan apakah dia ingin mengirimkan uang untuk ibunya. Padahal saat itu uangnya hanya tersisa Rp 200.000,- .Tetapi karena dia sangat mencintai orang tuanya akhirnya uang tersebut dititipkan semua kepada temannya. Tidak lama beberapa jam setelah dia menitipkan, tiba-tiba dia mendapatkan bonus Rp. 500.000,- dari kantornya. Subhanallah.... Allah langsung membalas saat itu juga.      

Sebagai penutup, kami teringat pesan bapak supir tersebut yaitu kita harus bersyukur dgn apa yg telah kita miliki. Tetapi kita harus tetap berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan juga jangan pernah berpikir untuk perhitungan dalam memberikan hasil nafkah kita kepada orang tua karena di dunia ini tidak ada yg bisa menggantikan segala jasa mereka kepada kita selama ini. Subhanallah......

-Repost from my another blog "dentistduo" (Jakarta, 21 Januari 2012)-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar