SKG (Sarjana Kedokteran Gigi) diraih bukan berarti hasil akhir seperti halnya teman2 saya di fakultas lain yang bisa langsung mencari kerja dan menghirup udara bebas. Justru itu baru gerbang awal. Kalau saya mau jadi dokter gigi saya harus melanjutkan ke tingkat profesi dengan kata lain menempuh masa koasistensi profesi dokter gigi. Sebut saja koass. Katanya bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 2 tahun (katanya yah). Yasudah saya coba lalui. Awal-awal dateng ke sekeloa bingung mau ngapain. Katanya sesuai jadwal disuruh ikut yang namanya pra-koas. Bilangnya persiapan sebelum masuk koas jadi biar masuk klinik katanya ga bodoh-bodoh banget (jadi waktu preklinik ngapain aja?? --__--). Dikasih pengarahan di tiap-tiap bagian, beberapa bagian menuntun kita melakukan pekerjaan antar teman seperti menambal dan menyuntik. (katanya sih biar tahu rasanya dulu sebelum ke orang lain), belajar status, response atau mungkin hanya diminta observasi saja trus buat makalah (sejujurnya saat itu ga ngerti juga apa yang dilihat, hehehe….). Alhasil, 2 bulan berlalu, prakoas pun usai dan dikasih libur lagi (mungkin waktunya buat nyari pasien dan belajar lagi (apa???belajarr??) yang ada pada pulang ke rumah masing2,ckckck---> don’t imitate it,okay?). Tiba-tiba udah ada aja pengumuman jdwl masuk koas dan bangku namun sebelumnya harus mengikuti sumpah koas dulu (keren yah koas aja perlu disumpah dulu hehehe…). Mulai panik! Liat requirement segitu banyak buat persyaratan lulus dan belum punya pasien sama sekali. Akhirnya dengan teman sekelompok berencana buat penyuluhan ke sekolah. Yah lumayanlah untuk stok minggu pertama di benak kita masing2 berpikir. Itulah awal mula pencarian pasien dimulai. Selanjutnya mengandalkan kemampuan public speaking dan persuasif saya saat ada pasien loket ataupun ketika dikenalkan oleh orang baru yang mau dirawat. Setelah melewatinya, ternyata makin kompleks hidup di dunia perkoasan,,tidak berniat melebih-lebihkan ya…
Oke, saya coba berbagi pengalaman di dua bagian saja (kalau semua bagian bisa sampe subuh saya nulis hehe…). Dimulai dari pencarian orang-orang yang mau dirawat dengan tingkat kesadaran yang tinggi (bukan hanya sampai selesai dirawat tapi sampai kontrol saudara2!). Kalau saya teringat sekarang saya Cuma bisa senyum-senyum. Saya ingat dulu pernah mencari rumah pasien parsil bersama teman hingga ke daerah dago ujung pake kendaraan umum dan kemudian jalan mendaki menyusuri jalan yang cukup menanjak (itung-itung olahraga hahaha….ya ga mei?) dan tahukah saudara2….perjuangan pun pertama kali diuji oleh Yang Maha Kuasa. Sang pasien pun memberikan harapan palsu. Setiap minggu ditunggu namun tak kunjung datang hingga akhirnya harus merelakan dan pencarian dilakukan kembali. 3 bulan berlalu dan saya hampir desperate ga kerja prosto T-T. Namun Tuhan memang menguji kesabaran hambaNya. Bulan ke-4 bulan penuh berkah. Saya ditawari pasien parsil saat saya sedang duduk2 di lobi (thanks to Nuri dan wiwit ^^) dan besoknya saya ditawari berpartneran mengerjakan dowel oleh teman saya (thanks to sekar dan dewi ^^). Beda lagi cerita saya di bagian perio. Sampai awal semester tiga saya sudah menscaling 17 pasien tapiiiiii yang balik kontrol cuma sepuluh dan belum ada pasien kasus kompleks apalagi bedah hiks….. Dua kali mengajukan ditolak yang terakhir giliran ada tidak menyanggupi perawatan lanjutan (huhuhu… nasib!). Seperti di lagu the Masiv “Jangan menyerah” Rejeki memang datang di saat yang indah menurut-Nya, akhirnya di penghujung semester tiga komplekspun didapat, rootplan dan bedah pun tercapai. Alhamdulillah, buah kesabaran dari berikhtiar (thanks to rima dan mba ela ^^). Pelajaran pentingnya adalah “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah) dan saya yakin bahwa the best is yet to come.
Yang namanya perjuangan memang jalannya tidak mulus2 saja. Kalau sekarang diingat-ingat Banyak juga ya pengalaman yang seru! (saat itu sih ngerasanya bikin deg2an dan emosi jadi labil hehehe). Sekali lagi saya katakan, perjuangan memang butuh pengorbanan. Antara lain saat putaran pedo, demi mengejar ketertinggalan, saya rela panas2an dan hujan2an menjemput anak dari ujung ke ujung (PP via sekeloa-sadang serang-dago pojok-cisitu ujung dengan kendaraan umum dan jalan kaki pfuiihhh…)Namun karena itu juga saya banyak belajar mengenal kehidupan orang lain yang tidak seberuntung saya. Mana pernah saya menduga kalo ternyata salah satu pasien saya mengorbankan waktunya untuk dirawat ke fkg padahal seharusnya dia membantu ibunya berjualan gorengan keliling. Dari situlah saya mulai belajar sabar dan berpositif thinking bila pasien saya tidak datang atau ngaret (Berjuta terima kasih karena kalian bintang itu bisa diraih ^^). Pelajaran pentingnya adalah keep positive thinking although sometimes the reality is hard to recognize
Nah ada lagi nih fenomena yang namanya menunggu jadwal diskusi yang tak kunjung tiba (bahkan ada yg berbulan-bulan),sampai-sampai model pun lumutan (ini baru berlebihan hehe….). Trus pernah ga dimarahi dan diusir keluar ruang diskusi oleh karena kebodohan sendiri? Itu juga pernah dialami waktu awal-awal semester (ya iyalah kalo udah pinter pasti udah lulus hehe…masih inget ga azky widy diskusi simple kita?;p) Tapi karena itu juga kalau bukan saya diusir, mungkin Carranza tidak akan pernah saya buka bahkan hanya jadi pajangan kamar saja, trus saya ga akan tahu cara probe yang baik, memakai disclosing solution yg benar, pemberian OHI yang baik dan lain sebagainya (thanks ya dok ^^). Pelajaran pentingnya adalah “You’ll never know if you don’t try”.
Ternyata jadi Koas itu benar-benar mantap! Emosi kita bisa dibuat berubah sewaktu-waktu. Dari mulai senang, sedih hingga nangis (bisa bahagia karena terharu atau kecewa). Senang saat hasil kerjaan kita dihargai oleh dokter supervisor berupa acc, saat diskusi dan ujian berjalan dengan lancar, saat pasien yang kita rawat senang dan puas akan hasil kerjaan kita tanpa peduli sudah berapa banyak uang kita keluarkan. Sedih dan kecewa saat pasien ingkar janji, tidak ada kabar dan hingga kabur sehingga musti harus mengulang kerjaan kembali, saat acc, diskusi atau ujian tidak lancar, saat baru tersadar uang di dompet sudah habis lagi (demi membayar seperti pekerjaan full2, bridge, ortho dan foto2 endo, kompleks perio kalau pasiennya maunya dibayarin hikss,,,,mengalir dengan sangat deras setiap harinya melebihi shopping di mall). Trus belum lagi saat-saat harus mengetek kursi dari subuh khusus di bagian2 tertentu, antri gantian memakai kursi, mengantri panjang antrian acc dan ternyata bel berbunyi, mengorbankan waktu tidur untuk jaga malam, dan membuat paper serta journal reading OM, mengantri untuk laporan, dan lain sebagainya. Seperti membentuk suatu lingkaran, kelulusan disini ditentukan oleh tiga faktor : pasien, diri kita dan dokter supervisor. Satu tidak mendukung, rasanya seperti hari yang sia-sia (betul tidak?) seperti dalam lagu Jordin Sparks “One step at a time” ^^. Dan pelajaran penting yang saya dapat adalah saya jadi lebih menghargai waktu dan kesempatan (peluang).
Mungkin ini cuma segelintir cerita dan saya yakin masing-masing koas di FKG UNPAD pasti punya cerita yang berbeda dengan saya atau bahkan lebih heboh….who knows?
Namun di cerita ini saya belum bisa membagikan bagaimana rasanya sidang kompre yang katanya bikin panas dingin itu,mungkin di next story kali ya hehe….
Oke, di penghujung cerita saya cuma mau bilang bahwa dibalik cerita ini tidak ada maksud untuk menggurui apalagi memprovokasi, hanya ingin membagi cerita yang mungkin tidak penting bagi beberapa orang tapi begitu berharga bagi saya bahwa ternyata perjalanan kita cukup panjang teman-teman untuk meraih gelar DOKTER GIGI. So, jangan menyerah, guys! Tunjukkan bahwa kita adalah pejuang-pejuang tangguh yang dapat survive dalam kondisi apapun! Anggap saja latihan sebelum kita nanti benar-benar terjun seorang diri mengabdi ke masyarakat. Patch Adam (seorang dokter, aktivis social, badut professional,penulis dan pendiri Gesundheit Institute) pernah menjabarkan kalimat yang bagus sekali di bukunya “Saya tidak mau orang-orang terkagum-kagum pada semangat dan ketekunan kami, melainkan terinspirasi oleh kami untuk bekerja keras bertahun-tahun dan juga bekerja keras untuk apa yang mereka yakini”
Bandung, 5 Oktober 2010
"Terlontar dari suara hati teramat dalam"
Selasa, 05 Oktober 2010
Jumat, 27 Agustus 2010
Ajari Aku
Ajari aku caramu mencintai
Tuhan...
Ajari aku caramu memberikan cinta
Tuhan...
Beritahu aku cara mencintai dengan tulus
Kutahu cinta itu murni
Tapi ku tak tahu buat itu indah
Cinta anugerah-Mu yang abadi
Tak ingin kunodai dengan suatu tinta
Tuhan....
Kutersanjung melihatmu mencintai
Kutertegun dengan caramu mencintai
Kutermenung memikirkan jalanmu mencintai
Tuhan...beritahu aku apa itu cinta
Mengapa terasa sulit
mengartikan satu makna kata cinta
Kucoba caraku dalam mencinta
Tapi tak cukup sempurna
Tuhan....
Beri aku kesempatan
membuka sedikit tabir rahasia cinta
Agar ku dapat mencinta seutuhnya
DiriMu,dirinya dan mereka
Bandung,260810-Aku mau tahu tentang cinta
Selasa, 24 Agustus 2010
Metamorfosis
"Lihat,nak,,, Kupu-kupu itu indah ya sayapnya " ucap seorang ibu pada anaknya..
"Aku ga suka kupu-kupu ibu" sang anak berujar.
"Lho kenapa nak? dia seekor hewan yang cantik dan tidak mengganggu, kenapa kamu tidak suka?" tanya si ibu kembali.
"Iya ibu soalnya kupu-kupu itu ternyata dulunya ulat. aku ga suka ulat" jawab anak kembali.
Seekor kupu-kupu dulunya seekor ulat. Hampir sebagian dari kita tidak suka dengan ulat. Bentuknya yang kecil, berbulu dan membuat gatal di kulit. Suka memakan daun dan buah. Hewan kecil yang jalannya mungkin seperti merangkak atau merayap. Kalau kita tidak suka bisa dengan cepat kita matikan dengan diinjak.Namun tahukah kita ternyata ulat berkontribusi untuk kita sebagai bahan baku untuk membuat baju-baju sutra yang cukup mahal harganya. Sungguh luar biasa sang ulat. Tapi ulat tidak mau berlama-lama menjadi ulat. Dia ingin berkembang dan melanglang buana ke negri sebrang. Hinggap dari satu bunga ke bunga lain serta menghisap sari madu dari berbagai variasi bunga. Seperti membuat rumahnya sendiri, sang ulat dengan giat membangunnya seperti ingin tidur panjang dalam kubahannya. Kepompong.
Ketika telah tiba waktunya, keluarlah seekor hewan dengan sayap yang indah kemudian terbang sesuka hati seperti menikmati kebebasan dan indahnya alam ini.
Dan saya pun mulai berpikir. Dulu dia hanyalah makhluk kecil tapi bisa bermetamorfosis menjadi sebuah makhluk hidup yang indah. Kita manusia semestinya tidak boleh kalah dengan ulat yang tak takut akan perubahan. Saya yakin kita juga bisa jadi makhluk yang indah bahkan lebih indah dari kupu-kupu.
Tidak ada yang suka dengan perubahan karena perubahan membuat sesuatu yang sudah biasa menjadi berbeda dan tak biasa. Ini hanya soal keadaan dan kebiasaan dari suatu sikap (attitude). Entah keadaan atau sikap yang awalnya buruk menjadi baik atau mungkin sebaliknya. Seorang Profesor Psikologi dari Harvard University menyatakan
Penemuan terbesar saya adalah kesimpulan bahwa manusia dapat mengubah hidupnya dengan cara mengubah pola pikirnya
Namun teori tak semudah aplikasinya. Saya pun pernah mengalaminya. Perubahan demi perubahan yang tak mudah dilalui dan mungkin jalannya harus pahit dan sulit dulu. Tapi ada satu Quote yang sedikit sarkastik namun seringkali teringat
Dunia membenci perubahan, namun perubahanlah satu-satunya yang mampu menciptakan kemajuan (Charles F. Ketering)
Tapi lagi-lagi dalam hidup ini kita diberikan pilihan. Mau berubah atau tidak It's your choice. Seperti halnya sebuah kayu akan tetap menjadi sebuah kayu jika berada di gudang tapi akan memberi manfaat jika diubah menjadi sebuah meja.
-Bandung, 23 Agustus 2010 "and i'm not a perfect person but i am trying to be a better person"-
Kamis, 12 Agustus 2010
Mulailah dari yang sederhana
"Aku lagi bahagia !"
Pasti kita semua pernah mengungkapkan kalimat seperti di atas. Entah saat mendapatkan gaji, saat kelulusan, saat lolos ujian, saat memenangkan pertandingan,saat dilamar dan lain sebagainya. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia bahagia didefinsikan sebagai
keadaan atau perasaan senang tentram (bebas dari segala yang menyusahkan); beruntung
Saya tidak bisa mendefinisikan secara pasti arti harfiah bahagia itu,,yang saya tahu bahagia itu ungkapan perasaan yang menyenangkan. Bahagia itu ekspresi yang terpancar dari wajah seseorang yang dekat dengan yang namanya senyum. Awalnya saya beranggapan kalau bahagia berhubungan dengan yang hal-hal indah, cukup dan memuaskan. Tapi, semakin saya besar, banyak melihat, membaca dan berinteraksi sosial dengan sekitarnya semakin mengerti bahwa bahagia itu bukan berarti bebas dari segala yang menyusahkan tapi lebih pada ungkapan tulus dari apa yang dirasakan. Seperti dua hari yang lalu saya menonton berita di salah satu tv swasta seorang bapak sebatang kara yang tinggal di tempat yang tidak sangat layak beratapkan bambu yang sudah reyot, dan makan dari sisa-sisa pemberian orang dan kakinya cacat. Sungguh miris bila kita bandingkan dengan kehidupan kaum jetset di perkotaan sana. Namun satu hal yang buat terenyuh bukan karena keadaan si bapak itu tapi pada semangat berjuang untuk survive diatas segala keterbatasan yang ada. Walau dengan keadaan yang serba tidak cukup dan kurang, dia masih bisa bekerja walau dari hanya mengumpulkan kayu-kayu untuk dijual di pasar. Kalau kita pikir berapa lah akan terjual mungkin masih lebih besar nominalnya makan kita sehari dibandingkan dengan penghasilannya. Satu lagi, ketika diwawancara bapak itu tidak menangis meratapi nasibnya tapi tersenyum seperti orang bahagia. Dengan bangganya dia bercerita tentang pekerjaannya, tentang anak-anaknya dan bagaimana puasnya saat dia bisa makan dari hasil keringatnya sendiri. Sungguh saya dibuat malu untuk kesekian kalinya.
Sebelumnya saya juga pernah bertemu dengan mereka yang kurang beruntung. Dia anak kecil umur 8 tahun dulu pernah saya rawat giginya dengan kata lain pasien pedo saya. Anaknya baik, agak bawel seperti kebanyakan anak-anak, tapi ketika dia pulang ke rumahnya dia tidak seperti seorang anak pada umur segitu. Saya pernah mendapati dia saat menjemputnya untuk dirawat, sedang menjual gorengan sambil menjaga adik satu-satunya karena ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Jujur saya salut dengannya di umur yang masih sangat muda sudah bisa mandiri untuk membantu ibunya dan mengasuh adiknya. Namun dia tidak pernah sama sekali mengeluh.
Mungkin dua cerita di atas hanya sedikit cerita dari beribu orang di dunia ini yang menurut kita mereka yang tidak beruntung. Tetapi ini bukan perihal beruntung atau tidak beruntung tapi tentang bersyukur.Mungkin kita kadang bersungut sungut ketika tidak dapat membeli barang yang ada di etalase toko atau saat kita tidak bisa membeli model handphone terbaru atau kita mengeluh karena rumah terlalu sempit. Tapi pernah kah kita
terpikirkan bahwa di luaran sana beberapa orang berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi walau dengan baju compang camping dan tak beralaskan kaki?tidur beralaskan kardus dan beratapkan plastik?
Saya pernah membaca sebuah buku ada kata-kata yang sampai sekarang masih saya ingat "Mulailah dari hal yang sederhana seperti bersyukur". Saya tidak akan menggurui siapa-siapa karena saya sendiri pun perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Saat saya mulai jenuh akan rutinitas perkuliahan dan pekerjaan saya, saya berusaha mati-matian untuk tidak mengeluh. Tidak mudah memang. Saya teringat pernah dinasehati seperti ini :
"kalau dikejar deadline kerjain aja tanpa ngeluh tar jg beres dengan sendirinya. Kalo ngerjain sesuatu dengan ngeluh, perasaan cape itu karena ngeluhnya bukan karena ngerjain sesuatunya, Jutaan orang pengen masuk kedokteran gigi lho "
Ya, benar di luaran sana banyak yang menginginkan kesempatan ini tapi ketika kesempatan ini telah ada di genggaman kenapa harus mengeluh saat menjalaninya?
Kalo ada yang cacat masih bisa berkarya bagaimana dengan kita yang sehat jasmani?
Kalo ada yang sudah tua masih sanggup bekerja mengapa kita yang muda sudah bermalas-malasan?
Kalo ada yang tidak mungkin bisa sekolah dan belajar di tempat yang layak mengapa kita yang sudah bisa justru mengeluh bila diminta rajin sekolah?
Kalo kita masih punya orang-orang sekitar yang peduli dengan kita mengapa tidak sepenuh hati menyayangi mereka sedangkan di luar sana mungkin ada segelintir orang yang sendirian menjalani hidup dan tidak punya orang tua?
Mari memulai dari yang sederhana. Bersyukur pada apa yang kita miliki dan yang telah dicapai, kemudian bila kita telah mencapainya berikanlah walau hanya seujung jari karena memberi lebih baik daripada menerima.
Tak pernah terlewatkan
dan tetap mengaguminya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa dibeli
Bersamamu
kuhabiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinyaa...
melawan keterbatasan
walau sedikit kemungkinan
takkan menyerah untuk hadapi
hingga sedih tak mau datang lagi
Bandung, 12 Agustus 2010 -ditemani lagu Ipang "sahabat kecil"-
Pasti kita semua pernah mengungkapkan kalimat seperti di atas. Entah saat mendapatkan gaji, saat kelulusan, saat lolos ujian, saat memenangkan pertandingan,saat dilamar dan lain sebagainya. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia bahagia didefinsikan sebagai
keadaan atau perasaan senang tentram (bebas dari segala yang menyusahkan); beruntung
Saya tidak bisa mendefinisikan secara pasti arti harfiah bahagia itu,,yang saya tahu bahagia itu ungkapan perasaan yang menyenangkan. Bahagia itu ekspresi yang terpancar dari wajah seseorang yang dekat dengan yang namanya senyum. Awalnya saya beranggapan kalau bahagia berhubungan dengan yang hal-hal indah, cukup dan memuaskan. Tapi, semakin saya besar, banyak melihat, membaca dan berinteraksi sosial dengan sekitarnya semakin mengerti bahwa bahagia itu bukan berarti bebas dari segala yang menyusahkan tapi lebih pada ungkapan tulus dari apa yang dirasakan. Seperti dua hari yang lalu saya menonton berita di salah satu tv swasta seorang bapak sebatang kara yang tinggal di tempat yang tidak sangat layak beratapkan bambu yang sudah reyot, dan makan dari sisa-sisa pemberian orang dan kakinya cacat. Sungguh miris bila kita bandingkan dengan kehidupan kaum jetset di perkotaan sana. Namun satu hal yang buat terenyuh bukan karena keadaan si bapak itu tapi pada semangat berjuang untuk survive diatas segala keterbatasan yang ada. Walau dengan keadaan yang serba tidak cukup dan kurang, dia masih bisa bekerja walau dari hanya mengumpulkan kayu-kayu untuk dijual di pasar. Kalau kita pikir berapa lah akan terjual mungkin masih lebih besar nominalnya makan kita sehari dibandingkan dengan penghasilannya. Satu lagi, ketika diwawancara bapak itu tidak menangis meratapi nasibnya tapi tersenyum seperti orang bahagia. Dengan bangganya dia bercerita tentang pekerjaannya, tentang anak-anaknya dan bagaimana puasnya saat dia bisa makan dari hasil keringatnya sendiri. Sungguh saya dibuat malu untuk kesekian kalinya.
Sebelumnya saya juga pernah bertemu dengan mereka yang kurang beruntung. Dia anak kecil umur 8 tahun dulu pernah saya rawat giginya dengan kata lain pasien pedo saya. Anaknya baik, agak bawel seperti kebanyakan anak-anak, tapi ketika dia pulang ke rumahnya dia tidak seperti seorang anak pada umur segitu. Saya pernah mendapati dia saat menjemputnya untuk dirawat, sedang menjual gorengan sambil menjaga adik satu-satunya karena ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Jujur saya salut dengannya di umur yang masih sangat muda sudah bisa mandiri untuk membantu ibunya dan mengasuh adiknya. Namun dia tidak pernah sama sekali mengeluh.
Mungkin dua cerita di atas hanya sedikit cerita dari beribu orang di dunia ini yang menurut kita mereka yang tidak beruntung. Tetapi ini bukan perihal beruntung atau tidak beruntung tapi tentang bersyukur.Mungkin kita kadang bersungut sungut ketika tidak dapat membeli barang yang ada di etalase toko atau saat kita tidak bisa membeli model handphone terbaru atau kita mengeluh karena rumah terlalu sempit. Tapi pernah kah kita
terpikirkan bahwa di luaran sana beberapa orang berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi walau dengan baju compang camping dan tak beralaskan kaki?tidur beralaskan kardus dan beratapkan plastik?
Saya pernah membaca sebuah buku ada kata-kata yang sampai sekarang masih saya ingat "Mulailah dari hal yang sederhana seperti bersyukur". Saya tidak akan menggurui siapa-siapa karena saya sendiri pun perlu banyak belajar dan memperbaiki diri. Saat saya mulai jenuh akan rutinitas perkuliahan dan pekerjaan saya, saya berusaha mati-matian untuk tidak mengeluh. Tidak mudah memang. Saya teringat pernah dinasehati seperti ini :
"kalau dikejar deadline kerjain aja tanpa ngeluh tar jg beres dengan sendirinya. Kalo ngerjain sesuatu dengan ngeluh, perasaan cape itu karena ngeluhnya bukan karena ngerjain sesuatunya, Jutaan orang pengen masuk kedokteran gigi lho "
Ya, benar di luaran sana banyak yang menginginkan kesempatan ini tapi ketika kesempatan ini telah ada di genggaman kenapa harus mengeluh saat menjalaninya?
Kalo ada yang cacat masih bisa berkarya bagaimana dengan kita yang sehat jasmani?
Kalo ada yang sudah tua masih sanggup bekerja mengapa kita yang muda sudah bermalas-malasan?
Kalo ada yang tidak mungkin bisa sekolah dan belajar di tempat yang layak mengapa kita yang sudah bisa justru mengeluh bila diminta rajin sekolah?
Kalo kita masih punya orang-orang sekitar yang peduli dengan kita mengapa tidak sepenuh hati menyayangi mereka sedangkan di luar sana mungkin ada segelintir orang yang sendirian menjalani hidup dan tidak punya orang tua?
Mari memulai dari yang sederhana. Bersyukur pada apa yang kita miliki dan yang telah dicapai, kemudian bila kita telah mencapainya berikanlah walau hanya seujung jari karena memberi lebih baik daripada menerima.
Tak pernah terlewatkan
dan tetap mengaguminya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa dibeli
Bersamamu
kuhabiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinyaa...
melawan keterbatasan
walau sedikit kemungkinan
takkan menyerah untuk hadapi
hingga sedih tak mau datang lagi
Bandung, 12 Agustus 2010 -ditemani lagu Ipang "sahabat kecil"-
Minggu, 08 Agustus 2010
Anyelir punya hajat (part 1) ;p
Selamat pagiiiiiii,,eh bentar lagi siang deng!hehehe... Hari ini saya tidaka akan bercerita tentang hari Minggu tapi saya mau berbagi tentang kekangenan saya dengan alumni anyelir. Yup! 4 tahun yang lalu kami berkumpul dalam satu keluarga di suatu kosan di ujung kota bandung a.k.a Jatinangor. Dulu Jatinangor tak seperti sekarang,dulu tempat itu sepi ga da mall, cupu lah pokoknya. Namun karena itu juga kosan udah seperti rumah kedua bagi kita-kita yang jauh dari orang tua. yah next time saya akan cerita banyak tentang rupa rupi anyelir's crew. Tapi sekarang kami terpisah oleh jarak dan cita-cita. Namun moment pernikahan adalah ajang kami reuni plus kangen2an.
Lihat saja kami sudah lebih dewasa dalam berfoto (hehe...kata siapa). Anyelir yang berhasil melepaskan rantai pertama adalah aya yang kemudian seperti metro mini saling susul menyusul Om asti, Achi dan yang the last nanul congratz ya teman2 semoga langgeng :)
So, Who's Next??Kita lihat saja nanti ;p semoga 5 tahun lagi kita bisa reunian sambil bawa keluarga masing-masing :D
Lihat saja kami sudah lebih dewasa dalam berfoto (hehe...kata siapa). Anyelir yang berhasil melepaskan rantai pertama adalah aya yang kemudian seperti metro mini saling susul menyusul Om asti, Achi dan yang the last nanul congratz ya teman2 semoga langgeng :)
![]() |
| Aya & Oka |
![]() |
| Asti&Kodir |
![]() | ||||
| Nana & Evan |
Seandainya....
Seandainya saya tahu hidup saya nanti akan kaya dan banyak uang
Saya pasti akan bermalas-malasan dan suka berfoya-foya
Tapi bila seandainya saya tahu nantinya miskin melarat
Saya pasti akan membanting tulang demi sesuap nasi dan rajin menabung
Jadi sebaiknya saya nanti harus seperti apa?
Seandainya saya tahu nanti saya akan jadi orang terkenal
Saya mungkin akan menjadi besar kepala dan tidak memperdulikan sekitar
Tapi bila seandainya saya tahu nantinya saya jadi orang biasa
Saya mungkin akan menjadi pemalu dan rendah diri
Jadi sebaiknya saya nanti harus seperti apa?
Seandainya saya tahu nanti saya pasti masuk surga
Saya mungkin akan lalai beribadah hingga lupa diri
Tapi bila seandainya saya tahu nanti saya tidak pasti masuk surga
Saya akan rajin beribadah dan tak lupa selalu bersyukur
Jadi sebaiknya saya nanti harus seperti apa?
Putar otak....berandai-andai namun tak sampai pada satu titik
Kenapa harus bertanya seperti itu
Saya bukan cenayang yang katanya bisa melihat masa depan
Apalagi Tuhan yang punya Kuasa membuat dan merencanakan
Seharusnya saya bukan membuat pertanyaan
yang bisa menimbulkan jawaban yang bermacam rupanya
Tapi saya seharusnya menciptakan pernyataan
Kalimatnya mungkin kurang lebih seperti ini
Saya harus jadi orang yang kaya hatinya
Hati yang mengajarkan saya untuk bersikap jujur
Hati yang menuntun saya menjadi orang yang peduli
Hati yang membuat saya bisa memberikan kebahagiaan dan merasakannya
Bandung, tengah malam 8 Agustus ’10-sambil ditemani lagu Tompi “tak pernah setengah hati”
Share on Saturday Night
Seperti mengutip salah satu penulis blog tentang pemahaman seorang 'Lady' :
Terlalu banyak mengeluh dan egois hanya akan menempatkan posisinya sebagai "Women" dan bukan "Lady".
Kegagalan serta keterbatasan bukanlah penghalang, semakin banyak mengeluh semakin lelah menjalaninya tetapi semakin jarang mengeluh semakin bahagia dalam menjalaninya
"Failure does not mean that i should give up
It does mean that i should try harder and need more practice"
(Fight like a tiger Win like a champion book)
Langganan:
Postingan (Atom)











